Pada edisi energi kali ini, rubrik Sosiolog mengangkat tema tentang energi dan hati manusia. Untuk rubrik ini penulis mewawancarai seorang tokoh “penemu” metode praktis pemberdayaan piranti hati yaitu Bapak Irmansyah Effendi M.Sc. yang berasal dari Padang, Sumatera Barat.

Beliau adalah Master of Science dalam bidang Computer Science dengan spesialisasi Artificial Intelligence dari California State University, Amerika Serikat. Melalui Metode Penguatan Hati yang “ditemukannya” pada tahun 2000, pak Irman secara aktif mengadakan lokakarya-lokakarya pengenalan dan pemanfaatan hati di 33 kota di Indonesia serta manca negara.

Beliau telah menulis 15 judul buku yang diterbitkan oleh Penerbit Gramedia, antara lain yang terkait dengan hati yakni:

  • Hati Nurani (2002),
  • Akal Budi: Seri Hati dan Kasih  (2007) yang telah diterjemahkan ke dalam 2 bahasa (Inggris dan Jerman),
  • Hati: Mengenal, Membuka dan Memanfaatkannya (2008), serta
  • Smile to Your Heart: Simple Meditations for Peace, Health, and Spiritual Growth (dalam bahasa Inggris, 2010).

Beliau sering diminta untuk mengisi acara-acara talk show dan sebagai pembicara di dalam maupun di luar negeri. Pada kesempatan kali ini, beliau diminta untuk memberikan penjelasan singkat tentang energi dan hati manusia.

Dalam rubrik ini juga, penulis menyisipkan contoh kasus manfaat “cluster interaksi” sebagai kelanjutan dari pembahasan tentang produktifitas kinerja internal yang dikemukakan pada edisi sebelumnya (PILAR edisi ke-3, Januari 2011).

Apakah yang dimaksud dengan energi pada manusia? Piranti utama apa yang menggerakkan energi manusia? Apa implikasi keberadaan energi manusia pada individu manusia, persekitaran sosial dan alam semesta? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar inilah yang hendak disampaikan kepada pembaca Peb Pilar News. Semoga bermanfaat, amin.

Secara sederhana, energi adalah tenaga atau kekuatan. Pengertian energi pada manusia dari sudut Sosiologi dibingkai pada konteks interaksi. Energi manusia akan aktif bila ada proses interaksi antar sesama manusia. Mengapa? Karena fitrah manusia adalah berinteraksi. Untuk memunculkan kesan kuat fitrah tersebut, coba kita amati perbedaan keberadaan manusia dengan batu. Batu sebagai benda, akan terasa sekali manfaat keberadaannya bila ia digerakkan oleh energi / kekuatan persekitarannya (oleh pergerakan alam, hewan, atau manusia). Namun manusia, ia akan bermanfaat bila secara aktif melakukan aktivitas (melalui kemampuan berpikir dan penampilan budi luhur). Makanya adalah bahwa energi manusia dipengaruhi oleh dua piranti utama, yakni otak dan hati.

Pemberdayaan Otak menghasilkan sebuah akal sehat, sedangkan pemberdayaan Hati menghasilkan budi luhur. Dalam kehidupan manusia, diperlukan sinergi antara pemberdayaan dan penggunaan kedua piranti utama ini. Sinergi kedua piranti ini akan menghasilkan energi positif bagi manusia dalam berinteraksi dengan sesama, lingkungan sosial dan fisiknya. Kehadiran energi manusia disadari oleh beberapa penulis dunia seperti kita rujuk pada buku “The Secret” yang ditulis oleh Rhonda Byrne (2007).

Dr. Ben Johnson (seorang dokter, penulis, dan pelopor penyembuhan dengan energi) menyatakan bahwa “Segala sesuatu adalah energi. Di dalam tubuh ini terdapat sistem organ, sel, molekul, dan atom yang kesemuanya mempunyai energi”. Ia menyatakan bahwa “Manusia adalah menara suar yang paling kuat di semesta. Sebagai energi, manusia bergetar pada suatu frekuensi. Dan yang paling menentukan frekuensi manusia adalah apa yang dipikirkan dan yang dirasakan”.

Sedangkan James Arthur Ray (seorang pengembang The Science of Success and Harmonic Wealth) mengingatkan “Anda adalah makhluk spiritual! Anda adalah ladang energi”.

Dr. John Hagelin (seorang fisikawan kuantum, pendidik dan ahli kebijakan publik yang memperoleh penghargaan Kilby Award) menyatakan “Bahwa sebenarnya kebahagiaan di dalam diri manusia adalah bahan bakar sukses, berbahagialah…”.

Ketiga penulis tersebut menyadarkan kita bahwa energi manusia ditumbuhkan dan diperkuat oleh keberadaan otak dan hati. Dengan otak manusia dapat berpikir menghasilkan gagasan-gagasan hebat yang perlu dibarengi dengan pemberdayaan hati yang menghasilkan rasa / perasaan. Dominan rasa / perasaan positif di hati adalah bahagia, tenang, damai, nyaman serta kasih.

Wawancara singkat dengan pak Irmansyah Effendi menjelaskan bahwa manusia itu pada hakekatnya dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa, dua piranti yang utama. Namun tanpa disadari, manusia lebih sering menggunakan penggunaan otak. Oleh karena itu, piranti hati perlu diberdayakan dan dikuatkan untuk dapat menjalani kehidupan damai bahagia dan penuh kasih. Sebagai catatan, pelajaran tentang budi pekerti di sekolah-sekolah di Indonesia tidak lagi diajarkan sebagai bagian dari kurikulum sekolah. Di sekolah, anak-anak lebih ditekankan pada penggunaan otak dengan konsep rasionalitasnya. Padahal, dalam berinteraksi dengan sesama, juga diperlukan rasa kasih dan empati yang tulus untuk menghasilkan sebuah kohesivitas dan kebersamaan.

Melalui wawancara singkat ini, kita seolah-olah diingatkan oleh pak Irman, bahwa manusia perlu menggunakan hati yang mempunyai energi dahsyat untuk kehidupan sebagai hamba Allah. Energi dahsyat tersebut adalah cinta kasih. Dengan energi dahsyat tersebut manusia dapat berinteraksi dan berkomunikasi dengan indah kepada Tuhan dan kepada sesama. Penekanan akan kebermanfaatan cinta kasih sebagai energi diungkapkan oleh James Artur Ray “Tidak ada kekuatan yang lebih besar di semesta ini dibandingkan kekuatan cinta. Perasaan cinta adalah frekuensi tertinggi yang dapat anda pancarkan. Jika anda dapat membungkus setiap pikiran dalam cinta, jika anda dapat mencintai segala sesuatu dan setiap orang, hidup anda akan berubah”. Dengan kata singkat, manusia akan sukses dan bahagia bila mengedepankan rasa kasih membungkus pikiran dalam kasih, yang ditumbuhkan melalui pemberdayaan piranti hati.

Berikut ini wawancara singkat penulis. DR. Erna Karim, M.Si, dengan Irmansyah Effendi M.Sc. tentang “energi dan hati” manusia.

Secara sosial dan spiritual, apakah yang dimaksud dengan energi pada manusia?

Secara sosial, untuk mendefinisikan energi, paling mudahnya kita lihat interaksi antar sesama. Misalnya kita bisa merasa langsung nyaman dengan seseorang padahal baru pertama kali bertemu. Contoh lain, kita merasakan interaksi kita dengan orang tertentu tidak enak / kurang sehat tetapi kita tidak tahu bagaimana memperbaikinya. Jadi, semua makhluk hidup (termasuk manusia) punya energi dan dalam setiap interaksi akan ada pengaruh timbal-balik. Jelas ini mempengaruhi kehidupan sosial kita, baik dalam keluarga, tempat kerja, atau di mana pun, termasuk orang-orang di sekitar yang hanya kita sapa sambil lalu saja.

Secara spiritual, ada energi pada tubuh manusia yang berpengaruh pada keadaan tubuh (kesehatan, kesegaran) dan lingkungan. Di samping itu, ada pula energi pada hati manusia yang berpengaruh pada perasaan sendiri (tenang, damai, bahagia) dan lingkungan. Walaupun secara umum keduanya saling mempengaruhi, tetapi sebenarnya energi pada hati ini adalah hal yang lebih mendalam. Misalnya, orang yang sakit berat ada yang masih bisa tenang dan damai, sementara cukup banyak orang sehat yang selalu merasa tidak tenang. Tentu saja yang terbaik adalah gabungan dari keduanya, yaitu sehat, segar, tenang, damai, dan bahagia.

Apakah energi itu dalam pengertian sederhana sama dengan ‘tenaga’ atau ‘kekuatan’?

Ya, secara sederhana, memang energi adalah tenaga atau kekuatan. Tetapi secara spiritual dan sosial, energi bukan sekedar sesuatu untuk tenaga atau kekuatan. Energi adalah sesuatu yang jauh lebih dalam dari itu, yang dapat dikatakan bagian yang sangat mendasar dari kehidupan setiap makhluk hidup. Pada manusia, kesegaran dan sikap dalam berinteraksi secara sosial, sehingga secara otomatis berpengaruh kepada lingkungan.

Apakah yang dimaksud dengan energi negatif dan energi positif yang  ada pada manusia?

Cukup sering istilah negatif dan positif dipakai untuk menjelaskan kutub dari energi. Dalam hal ini, setiap makhluk sebaiknya mempunyai energi negatif dan positif yang seimbang. Tetapi, apabila istilah ini dipergunakan dalam menjelaskan keadaan energi, maka energi negatif adalah penyebab hal-hal tidak baik pada fisik, mental, maupun emosional kita. Energi positif adalah energi yang memberikan kita manfaat-manfaat positif, misalnya membantu kita untuk lebih sehat, segar, ataupun tenang dan damai. Jadi, dalam hal ini, semakin banyak energi positif, akah semakin baiklah keadaan kita.

Implikasi apa yang dapat ditimbulkan dari pancaran energi negatif dan positif pada individu manusia itu sendiri dan persekitaran sosial (relasi sosial) serta alam semesta (musibah, kejadian, alam) ?

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, energi negatif bisa menyebabkan kita tidak sehat, tidak nyaman, tidak tenang, dsb. Energi negatif ini terus memenrus memancar mempengaruhi sesama dalam interaksi kita. Energi negatif dari tubuh lebih mudah disadari, apabila seseorang tidak sehat, alias sakit, maka orang tersebut tentu akan mencari bantuan dan beristirahat untuk sembuh. Tetapi, energi negatif dari hati adalah sesuatu yang masih kurang dikenali secara umum. Banyak orang yang hatinya dipenuhi oleh energi negatif (emosi negatif), seperti kesombongan, kemarahan, ketidakpuasan, dan sebagainya yang berlangsung terus menerus dalam waktu panjang yang cukup sering memburuk terus keadaannya. Energi negatif dari hati ini sebagaimana energi negatif lainnya, terus menerus dipancarkan oleh yang bersangkutan dan dapat dirasakan oleh orang-orang yang cukup peka sebagai perasaan tidak nyaman saat berinteraksi dengan orang-orang tertentu. Tetapi, peka atau tidak, biasanya orang-orang begini akan cenderung mempunyai hubungan sosial yang kurang harmonis dengan lingkungannya.

Cukup sering kita dengan keluhan bagaimana dia merasa lingkungan di tempat kerjanya kurang nyaman, sehingga dia juga menjadi tegang, stress dan menyebarkan pula masalah ini ke rumah dan sebagainya dan biasanya juga mempengaruhi tubuh fisik.

Nah, energi negatif yang terus menerus terpancar di suatu lingkungan, berpengaruh besar pada setiap manusia di lingkungan tersebut. Tentu saja pancaran energi negatif ini sampai ke semua makhluk hidup lainnya yang mempunyai energi juga, yaitu tumbuhan bahkan bumi. Apabila sebuah daerah yang cukup luas terlalu banyak energi negatifnya, maka hal ini akan memberikan pengaruh yang negatif pada bumi juga, dimana reaksinya dapat timbul bencana alam, dsb.

Sebagai kebalikannya, tentu saja energi positif akan memberikan implikasi yang baik, pada yang bersangkutan maupun lingkungannya. Ingatkah anda, saat seorang tersenyum kepada anda dengan tulus dan  bahagia, anda jadi tersenyum bahagia juga? Bayangkan kalau ada senyum dan kebahagiaan sepanjang hari di mana-mana. Sebagaimana energi positif ini adalah yang dari hati, ketulusan juga harus dari hati. Jadi, hati adalah sebuah kunci yang sangat penting, tidak saja untuk energi positif dari hati, ketulusan, tetapi juga dalam hubungan sosial kita dengan sesama.

Apa yang dimaksud dengan hati pada manusia?

Hati adalah Anugerah luar biasa dari Sang Pencipta untuk manusia sebagai kunci hubungan kepadaNya. Hati adalah sesuatu yang sangat istimewa, yaitu hanya kita yang bisa mengotorkan, dah hanya Sang Pencipta yang dapat membersihkan. Sumber energi positif dari hati hanyalah Berkat Sang Pencipta (rahmat Illahi, red.). Jadi semua energi negatif hati sebenarnya kita sendiri yang membuat. Seseorang yang hatinya mempunyai banyak energi negatif, saat berinteraksi dengan kita membuat kita merasa tidak nyaman. Apabila pada saat interaksi tersebut hati kita sedang dipenuhi oleh energi positif, kita akan tetap merasa tenang, damai dan bahagia. Malahan energi positif kita ini dapat ‘menghimbau’ hati orang tersebut untuk menerima Berkat Sang Pencipta yang menjadi energi positif bagi hati dan dirinya secara keseluruhan. Tetapi, apabila saat interaksi tersebut energi positif hati tidak cukup kuat, maka kita cenderung akan bereaksi secara negatif.

Di manakah letaknya hati manusia secara praksis?

Hal pertama yang harus kita ingat adalah, hati di sini bukanlah organ tubuh fisik kita yang dalam bahasa Inggrisnya disebut sebagai “liver”. Hati di sini adalah sesuatu yang tidak tidak fisik yang berada dalam rongga dada kita. Hati adalah sesuatu yang sangat penting yang banyak disebut dalam kitab suci berbagai agama untuk dipergunakan dalam hubungan kita dengan Sang Pencipta.


(Dalam kitab suci agama Islam, ada kurang lebih 200 ayat yang mengingatkan tentang keberadaan hati dan penggunaannya, seperti yang dikemukakan antara lain pada Surat Al-Ankabut ayat 49, Surat Al-Hajj ayat 46, Surat Al-Mu’minun ayat 78, Surat Al-Israa ayat 36, surat Al-’Araf ayat 179, dsb. ek).

Untuk memperjelas kedudukan hati sebagai piranti yang utama dalam hubungan dengan Sang Pencipta, berikut adalah kutipan beberapa ayat di dalam Al-Qur’an yang berkaitan dengan hati:

Al-Ankabut ayat 49:
“Sebenarnya (Al-Qur’an) itu adalah ayat-alat yang jelas di dalam dada orang-orang yang berilmu. Hanya orang-orang yang zalim yang mengingkari ayat-ayat Kami”.

Al-Hajj ayat 46:
“Maka apakah mereka tidak berjalan di bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dapat mengerti atau telinga yang dapat mendengar? Maka sesungguhnya bukan pandangan (mata) yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada”.

Al-’Araf ayat 179:
“Dan sungguh Kami telah sediakan untuk (isi) neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia; mereka mempunyai hati (tetapi) tidak mau memahami dengannya, mereka mempunyai telinga (tetapi) mereka tidak dapat mendengar dengannya. Mereka itu seperti binatang ternak bahkan mereka lebih sesat. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Qur’an Asy-Syu’araa ayat 88-89:
“Akan ada hari dimana tiada bermanfaat harta benda dan anak-anak, kecuali siapa yang datang kepada Allah dengan qolbun saliim (hati yang selamat)”.

QS ar-Ra’d ayat 28:
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram”.

QS ar-Israa’ ayat 36:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati; semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya”.

QS al-Muthaffifiin ayat 14:
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka”.

QS al-Baqarah ayat 284:
“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan jika anda melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau anda menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan anda tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

QS Al-Mu’minun ayat 78:
“Dan Dialah yang telah menciptakan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, tetapi sedikit sekali kamu bersyukur”.

QS al-Anfal ayat 2:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhan lah mereka bertawakkal”.

QS An-Nahl ayat 102:
Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur’an itu dari Tuhan mu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.

Hati, sebagai piranti penting disamping otak, adalah anugerah luar biasa dari Tuhan YME untuk manusia dapat menjalani kehidupan di muka bumi ini dengan indah. Jadi hatipun perlu diberdayakan dan digunakan seperti halnya otak.

Metoda praksis dan praktis apa yang pak Irman ‘temukan’ dan sosialisasikan / ajarkan kepada banyak manusia tidak hanya di Indonesia (di 33 kota), tetapi juga di manca-negara (Amerika, Canada, Panama, Venezuela, Jamaica, Australia, Belanda, Jerman, Inggris, Irlandia, Swiss, Austria, Portugal, Spanyol, New Zealand, Turki, China, Hongkong, Singapura, Malaysia, dsb)?

Pertama, manusia diberikan oleh Sang Pencipta akal dan budi. Apabila otak kita adalah piranti khusus untuk akal kita, maka hati adalah piranti khusus untuk budi kita. Masing-masing adalah hal yang sangat penting. Memakai akal kita dengan sebaik-baiknya adalah bagian dari mensyukiri anugerah yang indah dari Sang Pencipta. Tetapi, tanpa cukup mempergunakan hati kita, maka kita barulah mempergunakan / menjalankan / mempraktekkan budi hanya sebatas akal kita, belum ke tahap yang sebenar-benarnya. Seyogyanya, kita melakukan sesuatu dengan pikiran tulus dan benar-benar dengan perasaan tulus pula. Sudah tentu budi ini jelas adalah kunci penting dalam hubungan sosial kita dengan sesama, apalagi kalo kita bicara soal ketulusan dan sejenisnya.

Kedua, memberdayakan hati bukanlah sekedar basa-basi atau istilah saja, tetapi memang ada metodanya. Ini disebabkan karena banyak cara dan sikap kita dalam hidup sehari-hari yang sebenarnya menghalangi hati kita untuk berfungsi. Apalagi bila hati kita telah dipenuhi oleh energi negatif, maka semakin susahlah bagi hati kita untuk berfungsi secara otomatis. Ini berbeda dengan indera fisik kita seperti mata, telinga, dan sebagainya, yang dapat dikatakan berfungsi secara otomatis mengikuti perintah dari otak kita.

Ketiga, walaupun memberdayakan hati membutuhkan metoda khusus, tetapi karena metodanya sendiri sangat alami, maka sebenarnya sangatlah mudah. Pada tahap awal kita hanya perlu menyantaikan otak kita dan tersenyum agar tidak menghalangi hati dan membiarkan agar hati kita menjadi lebih kuat. Metoda ini biasanya saya sebut sebagai “Metoda Menguatkan Hati” (Lihat buku Hati: Mengenal, Membuka, dan Memanfaatkannya, karya Irmansyah Effendi M.Sc. 2008).

Dengan menguatnya hati kita, hati sebagai anugerah khusus dari Sang Pencipta sebagai kunci hubungan kepadaNya, akan secara otomatis pula membersihkan energi negatif hati, energi negatif tubuh dsb serta memberikan energi positif untuk semua bagian diri kita dan lingkungan.

Yang membuat hal ini sangat mudah adalah karena semua proses ini tidak perli kita urus sama sekali. Ia terjadi secara otomatis. Yang perlu kita lakukan hanya santai dan tersenyum saja.

Di Indonesia dan di manca-negara, ada Lokakarya Membuka Hati dan juga berbagai Kelompok Sosialisasi Hati di berbagai bidang. Sebagai contoh, program mengajarkan pemakaian hati telah diakui dan secara formal dijalankan di Health Center di suatu College di California, Amerika Serikat. Semua yang telah belajar menguatkan hati juga selalu dianjurkan untuk bukan semata tahu atau menyukai, tetapi untuk benar-benar memberdayakan hati dalam kehidupan mereka sehari-hari sesering mungkin. Semakin banyak dari kita yang membuka hati, semakin indah segalanya.

Bagaimana keterkaitan antara pembelajaran hati dengan ‘energi’ manusia yang belajar dan tidak belajar hati?

Manusia yang tidak belajar hati, energinya cenderung mudah terpengaruh secara negatif. Padahal, untuk merubah atau membuatnya menjadi positif tidaklah terlalu mudah. Apalagi untuk energi positif hati, apa yang dapat dilakukan oleh manusia sangatlah terbatas. Orang-orang yang berlatih khusus untuk menenangkan diripun, biasanya hanya mencapai taraf tenang dan damai yang terbatas saja.

Setelah menjalankan metoda menguatkan hati dan dapat memberdayakan hati yang adalah anugerah khusus dari Sang Pencipta (dimana hati kita secara otomatis menerima Berkat dari Sang Pencipta yang tentu adalah energi positif terbaik diatas segalanya), banyak perubahan terjadi pada yang bersangkutan. Yang bersangkutan tidak mudah terpengaruh secara negatif. Selain itu, Berkat dari Sang Pencipta juga bekerja secara meluas dan mendalam membersihkan energi-energi negatif di manapun dan menggantikannya dengan energi positif.

Apa implikasi positif belajar hati dengan perbaikan kualitas energi pada manusia?

Bagi yang telah belajar, melaporkan banyak perubahan yang bagus pada stamina, kesehatan, ketenangan, kekhusukan dalam berdoa dan sosialisasi (interaksi, red) dengan sesama. Tidak saja mereka merasa lebih sehat, segar, tenang, damai dan bahagia, mereka juga merasa betapa hal-hal yang selama ini membuat mereka bereaksi secara negatif, sekarang hal yang sama hanya membuat mereka tersenyum saja. Perubahan mereka juga dapat dikenali oelh banyak rekan / saudara mereka yang juga merasakan perubahan perasaan mereka, sehingga juga ikut belajar.

~ dikutip dari Majalah Pilar Ekonomi Bangsa Volume IV ~

Energi dan Hati Manusia Energi dan Hati Manusia

Energi dan Hati Manusia Energi dan Hati Manusia

Energi dan Hati Manusia

Tagged with:

Filed under: Hati

Like this post? Subscribe to my RSS feed and get loads more!